SMARTLIFE.ID – Attachment style, atau gaya keterikatan, adalah pola hubungan emosional yang sudah dibentuk sejak kecil dan kemudian memengaruhi cara seseorang dalam berhubungan sosial di masa dewasa.
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh John Bowlby dan dipopulerkan oleh Mary Ainsworth.
Kontributor yang membentuk attachment style adalah figur pengasuh (biasanya orang tua), yang membentuk dasar dari cara kita mempercayai, merespons, serta terhubung dengan orang lain.
Baca Juga: Viral Kisah Diet Wanita Turunkan BB hingga 38 Kg, Hanya dengan Terapkan Metode Jalan Kaki 6-6-6
Secara umum, terdapat empat tipe utama attachment style, yaitu:
1. Secure Attachment (Keterikatan yang Aman)
Ciri-ciri:
– Nyaman dengan kedekatan maupun kemandirian.
– Mampu mengelola emosi dan komunikasi dalam hubungan.
– Percaya bahwa pasangan akan hadir saat dibutuhkan.
– Tidak takut akan penolakan atau kehilangan.
Baca Juga: Tren Shampoo Non SLS Meningkat, Aman untuk Kulit Sensitif dan Buat Rambut Lebih Lembut
Biasanya, seseorang yang memiliki tipe secure attachment memang tumbuh dalam lingkungan yang konsisten, penuh kasih sayang dan memenuhi kebutuhan emosional.
Anak-anak dengan pengasuh yang sensitif dan suportif biasanya berkembang menjadi individu dengan secure attachment.
Sehingga, Individu dengan attachment ini cenderung memiliki hubungan yang stabil, saling percaya, dan suportif.
Baca Juga: 4 Tren dan Kebiasaan Liburan ala Gen Z, Salah Satunya Bergantung Rekomendasi Influencer
2. Anxious Attachment (Keterikatan yang Berisi Kecemasan)
Ciri-ciri:
– Sangat membutuhkan kedekatan dan validasi.
– Takut ditinggalkan atau tidak dicintai.
– Sering merasa tidak cukup dalam hubungan.
– Cenderung overthinking dan mencari kepastian berulang kali.
Baca Juga: 4 Tren dan Kebiasaan Liburan ala Gen Z, Salah Satunya Bergantung Rekomendasi Influencer
Seseorang yang berkembang di lingkungan yang mana pengasuh tidak konsisten—kadang hadir, kadang tidak bisa membuat anak menganggap bahwa perhatian tidak selalu bisa diandalkan.
Dalam bersosial, individu dengan tipe attachment ini cenderung menjadi clingy (tidak bisa jauh-jauh), posesif, dan sangat peka terhadap tanda-tanda penolakan, bahkan yang kecil sekalipun.
Baca Juga: Sir Arthur Conan Doyle, Pencipta Sosok Detektif Jenius yang Tak Lekang oleh Waktu
3. Avoidant Attachment (Keterikatan Menghindar)
Ciri-ciri:
– Menghindari kedekatan dan terlalu mengandalkan diri sendiri.
– Sulit mengekspresikan emosi.
– Tidak nyaman berbagi perasaan atau ketergantungan dengan orang lain.
– Menarik diri saat hubungan terasa terlalu dekat.
Baca Juga: Timezone Luncurkan Animal Kaiser+ Versi Terbaru, Arena Duel Makin Panas
Sering kali muncul dari pola pengasuhan yang dingin, tidak responsif, atau mendorong kemandirian secara berlebihan sejak dini.
Dalam bersosial, cenderung menjaga jarak emosional, sulit berkomitmen dan mudah merasa terkekang oleh hubungan yang terlalu intens.
4. Disorganized Attachment (Keterikatan Tak Terorganisir)
Baca Juga: Gaya Hidup Ramah Lingkungan, Pemuda Indonesia Dorong SDGs dari Komunitas
Ciri-ciri:
– Perpaduan antara anxious dan avoidant.
– Menginginkan kedekatan tetapi takut terluka secara emosional.
– Perilaku dalam hubungan sering tidak konsisten dan membingungkan.
– Bisa menunjukkan perilaku ekstrem: sangat lekat lalu tiba-tiba menjauh.
Baca Juga: Mengupas Kelemahan dan Kelebihan Ban Hard Compound, Juara Daya Tahan di Jalanan
Biasanya berasal dari pengalaman trauma, kekerasan, atau pengasuh yang menjadi sumber ketakutan (misalnya: penyimpangan atau pengabaian).
Dalam bersosial, bisa sering diwarnai dengan konflik, drama dan ketidakstabilan emosional.










