Beranda / Lifestyle / Mengapa Mimpi Bisa Punya Cerita Sendiri? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mengapa Mimpi Bisa Punya Cerita Sendiri? Ini Penjelasan Ilmiahnya

SMARTLIFE.ID – Meski mimpi sering kali terasa nyata, hal ini merupakan pengalaman bawah sadar yang memungkinkan kita untuk membuat cerita, sekalipun yang bersifat kompleks. 

Misalnya, saat di mimpi, kita bisa berada di tempat yang tidak pernah dikunjungi di dunia nyata, kemudian bertemu dengan manusia lain yang tidak pernah kita lihat sebelumnya sambil seolah-olah perlu menjalani kisah yang berada didalamnya.

Tetapi sebenarnya, apa yang terjadi saat kita tertidur sehingga mimpi dapat membentuk cerita?

Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Hebat sampai 10.000 meter, Warga Diminta Waspada Abu dan Lahar

1. Mimpi Terjadi Ketika Tidur REM

Berdasarkan penelitian, mimpi yang naratif dan cenderung jelas biasa terjadi saat fase Rapid Eye Movement (REM), dimana otak yang bekerja saat tidur menyerupai saat bangun karena keaktifan-nya.

Area otak yang terlibat adalah visual (seperti korteks visual) dan emosi (seperti amigdala) sangat aktif, sedang area penilaian dan kontrol logika (seperti prefrontal cortex) mengalami penurunan dalam aktivitasnya.

Sehingga, cerita didalam mimpi bisa terbentuk meskipun terkesan aneh, emosional, atau tidak selalu masuk akal karena melemahnya pengendali logika.

Baca Juga: LEGO® Playground Hadirkan Petualangan Seru dan Bermakna di Liburan Sekolah

2. Rangkaian Informasi Acak Menjadi Narasi

Pada tahun 1977, Hobson dan McCarley mengemukakan teori aktivasi-sintesis yang menjadi salah satu teori paling terkenal.

Teori ini dapat menjelaskan bahwa yang membentuk mimpi merupakan ulah otak itu sendiri yang mencoba untuk mensintesis sinyal acak menjadi masuk akal, sinyal acak ini berasal dari batang otak yang aktif selama tidur REM.

Sehingga secara otomatis, otak kita berusaha untuk membuat narasi dari informasi acak.

Baca Juga: Menko Ungkap Bahaya Scrolling Medsos Bagi Anak Muda, Pratikno: Bisa Picu Kebiasaan Berpikir Pendek

3. Bahan Baku Cerita Berasal dari Emosi dan Ingatan

Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa mimpi sering kali menggunakan fragmen memori dari kehidupan nyata, seperti tempat yang pernah dikunjungi, percakapan, bahkan trauma masa lalu.

Mimpi juga bukan berasal dari memori yang mentah, melainkan memori yang sudah melewati proses menyusun dan mencampur ulang.

Selain itu, emosi yang mendominasi seperti kebahagiaan atau kesedihan ikut andil dalam memberi warna pada alur cerita didalamnya.

Baca Juga: PLN Icon Plus Dorong Industri Hijau Melalui Kolaborasi Strategis dan Inovasi Energi

Sebagai tambahan, beberapa ahli mengungkapkan bahwa mimpi memiliki fungsi untuk membantu kita dalam menyatukan ingatan dan memproses pengalaman emosional.

4. Pentingnya Peran Sistem Default Mode Network (DMN)

Studi neuroimaging menunjukkan bahwa Default Mode Network (DMN) merupakan jaringan di otak yang biasa aktif saat otak sedang merenung atau mengembara, yang juga aktif saat terjadinya mimpi.

Dalam membentuk struktur cerita dan narasi yang ada didalam mimpi, DMN inilah yang diyakini menjadi kontributornya.

Baca Juga: Miris! Pegawai Minimarket Diduga Lakukan Pelecehan Seksual terhadap Bocah 11 Tahun, Terungkap dari Cara Korban Berjalan

Dengan bantuan DMN, potongan-potongan informasi dan juga pengalaman dapat menjadi alur yang koheren dalam mimpi, meski sifatnya sering kali metaforis atau simbolik.

 

Tag: