Beranda / Sehat Plus / Buku “Sehat Setengah Hati” Ungkap Akar Masalah Gagalnya Program Hidup Sehat di Indonesia

Buku “Sehat Setengah Hati” Ungkap Akar Masalah Gagalnya Program Hidup Sehat di Indonesia

SMARTPARENT.ID – Meski pemerintah gencar menjalankan berbagai program kesehatan seperti Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), pemeriksaan kesehatan gratis, deteksi dini penyakit tidak menular (PTM), hingga pencegahan stunting, penerapan gaya hidup sehat di Indonesia masih menghadapi tantangan besar.

Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kepedulian masyarakat terhadap dampak kesehatan jangka panjang. Banyak yang lebih mementingkan kenyamanan sesaat dan mengabaikan risiko kesehatan di masa depan.

“Selama merasa baik-baik saja, masyarakat cenderung terus menjalani gaya hidup yang sebenarnya berisiko.

Baca Juga: Kenali Perdarahan Menstruasi Berat dan LNG-IUS untuk Terapi Perdarahan Menstruasi Berat  

Padahal, dampak dari gaya hidup buruk kerap tak terlihat langsung, melainkan baru terasa dalam jangka waktu panjang,” ujar Peneliti Kedokteran Komunitas, Dr. Ray Wagiu Basrowi dalam peluncuran bukunya berjudul Sehat Setengah Hati – Interpretasi Paradoks Health Belief Model di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (28/5).

Pada acara yang sama, mantan Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019, Prof. Dr. Nila F. Moeloek juga menyoroti rendahnya literasi dan pendidikan kesehatan sebagai persoalan krusial.

Ia mencontohkan persepsi masyarakat terhadap stunting.

“Kalau ditanya stunting atau anak pendek, mereka tahu. Anak kate, katanya. Tapi apakah mereka paham bahwa otaknya juga bisa ikut terganggu? Itu yang masih kurang disadari,” tuturnya.

Buku karya Dr. Ray Basrowi ini menyajikan interpretasi kritis terhadap Health Belief Model (HBM), sebuah pendekatan psikologis yang telah digunakan secara global sejak tahun 1950-an.

Baca Juga: Dampak Positif dan Negatif Gadget untuk Anak: Kenali Batasnya, Yuk!

HBM menguraikan enam dimensi utama dalam pengambilan keputusan kesehatan: persepsi kerentanan, persepsi tingkat keparahan, persepsi manfaat, hambatan, dorongan untuk bertindak, dan kepercayaan diri untuk berubah (self-efficacy).

Menurut Ray, kegagalan berbagai program kesehatan di Indonesia kerap terjadi karena dimensi-dimensi dalam HBM ini belum terintegrasi secara optimal.

“Sebesar apa pun investasi negara dalam bidang kesehatan akan sia-sia jika masyarakat merasa belum rentan, belum perlu periksa karena merasa masih muda dan sehat.

Inilah alasan HBM harus dimasukkan dalam strategi komunikasi dan pelaksanaan program kesehatan,” jelasnya.

Ray juga menekankan bahwa pendekatan HBM bukan hanya relevan untuk program pemerintah seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan deteksi dini PTM, tetapi juga penting bagi edukasi yang disampaikan oleh para influencer dan praktisi kesehatan.

Hal ini diamini oleh Rory Asyari, figur publik sekaligus pegiat edukasi kesehatan, yang menyatakan bahwa pemahaman terhadap HBM sangat membantu para pemengaruh dalam menyampaikan pesan yang tepat sasaran.

Baca Juga: Checklist Kebutuhan Bayi Baru Lahir: Panduan untuk Orangtua Baru

Prof. Nila Moeloek menambahkan bahwa buku ini patut menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan.

“Pendekatan HBM merupakan intervensi strategis yang berbasis ilmiah. Jika diterapkan dengan benar, dapat meningkatkan efektivitas program kesehatan nasional secara signifikan,” ujarnya.

Melalui buku ini, Ray—yang juga pendiri Health Collaborative Center (HCC)—mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan, untuk mengintegrasikan pendekatan Health Belief Model dalam desain program, pelatihan kader, serta strategi komunikasi perubahan perilaku.

Baca Juga: Karbon Biru, Warisan Hijau: Mengapa Laut dan Pesisir Perlu Dijaga Demi Masa Depan Anak Kita

Ia juga mengusulkan agar indikator baru, yakni ‘kepercayaan dan makna sehat’, menjadi bagian dalam evaluasi keberhasilan program kesehatan nasional ke depan.

 

Tag: